Ok. bulan juli 2010 ini gw ditugasin Bapak Iswanto selaku guru bahasa Indonesia untuk buat cerpen berdasarkan pengalaman hidup yang menarik. Deadlinenya sih 4 Agustus 2010. Kebetulan aja gw belum bikin sama sekali. (atau lebih tepatnya males banget) Lalu pada tanggal 3 agustus 2010 ada seorang adik kelas yang ngakunya kelas 7, memberi gw surat cinta. Cuma semalem gw bikin cerpen ini. Yaa simak aja. Gw tulis di dalem cerpen ini. Abisnya males kalo ceritain ulang. Komennya ditunggu yaaa.
Cerita ini benar adanya. Saya benar-benar mengalaminya sendiri.
______________________________________________________________________
“Hoaaaam….” Mumtaz menguap sembari menengok kepada jam waker-nya. Ia baru saja bangun tidur. “Hah? Jam setengah enam? Mampus gue belum solat shubuh! ” Mumtaz pun lari menuju kamar mandi, Ia mandi, berpakaian lalu sholat dengan khusyu. Setelah sarapan ia pun berangkat ke sekolah untuk menimba ilmu. Sekarang Mumtaz Telah duduk di kelas 9 atau 3 SMP. Dan tahun depan ia akan menghadapi ujian maha dasyhat yang paling ditakuti murid-murid tahun terakhir. “Pokoknya gue harus ngejar materi pelajaran yang kelewatan” Ucap Mumtaz sembari naik angkutan kota. Sudah beberapa hari ini mumtaz mengalami nyeri lambung sampai-sampai ia harus absen sekolah selama 3 hari. Sesampainya di sekolah ia mencari tempat kosong. Ya. Karena sampai terlambat, tempat paling belakang yang hanya tersisa. Sesampainya Mumtaz pun berbincang-bincang dengan teman-teman super anehnya. Mereka semua bernama Alif, Ilham, Dan Ojan. Sebenarnya semua teman Mumtaz Itu semuanya aneh. Tapi mereka inilah yang paling aneh diantara yang aneh. Ya memang begitulah manusia. Semuanya mempunyai Keunikan sendiri.
“Halo ilham” Mumtaz menyapa hangat ilham. “……..” Ilham menjawab dengan wajah tanpa ekspresinya. “halo.” 10 menit kemudian Ojan pun datang. “gila lu jan. Jam tujuh lewat sepuluh menit dateng ke sekolah. Ga dapet guru piket lu?” Mumtaz mengajukan pertanyaan wajar kepada ojan. “ Tadi gue pake jurus ngilang, Abis diajarin dukun langganan” Ojan menjawab dengan mata penuh keyakinan. “Oh.. Nanti ajarin gue ya. “ Jawab Mumtaz dengan nada meminta. Dan Bel pelajaran pun berbunyi. 4 jam pelajaran Mumtaz jalani dengan sungguh-sungguh, Serius, Dan penuh canda tawa serta Suka-duka. Jam pelajaran pertama adalah Teknologi Informasi dan Komunikasi selama dua jam, Seni budaya selama satu jam dan Bahasa inggris selama satu jam.
Tiba-lah waktu yang paling ditunggu-tunggu siswa. “ISTIRAHAAT! YEEAAAAH! WOHOOOO!” Mumtaz Teriak histeris. Ia bersama Ilham, Alif, dan Ojan pun menyerbu Kantin. Pagi ini kantin yang sempit itu menjadi lautan manusia yang kelaparan. Mumtaz membeli makanan yang cocok dengan lambungnya. Hanya biskuit yang diperbolehkan. Ia beli-lah berbagai macam biskuit. Sehabis itu ia kembali dengan senyum puas di wajahnya. “Ayo Mum, Katanya mau beli buku di seberang.” Ajak Ilham menagih janji Mumtaz. “Iya, Bentar nih gue ngambil duit dulu… Emang harganya berapa?” Tanya Mumtaz sembari memeriksa dompet tipisnya. “ng…. Kalo ga salah seratus delapan puluh ribuan.. “ Jawab ilham sambil mengingat-ingat. “HAH? Katanya kemarin Delapan puluh ribuan? Masa sehari langsung naek seratus ribu? Ga lucu amat tukangnya. Salam jayus ya buat tukangnya.” Jawab Mumtaz Dengan nada marah-marah. “Jeh. Lu salah denger kali. Ga ikut nih?” Ilham menanyakan hal yang sama lagi. “Ya nggak lah. Orang duitnya kurang cepek” Mumtaz menjawab sinis. “Yah.. Sepi nih kelas, Pada beli buku semua. Eh, di luar ada Ojan, Dzaky sama Galih. Ngobrol aahh..” Lalu mumtaz menghampiri Ojan Dzaky dan Galih.
Lalu mereka ngobrol dengan asiknya memperbincangkan apa yang Biasanya bocah SMP perbincangkan sambil memakan biskuitnya. Kemudian Winona dan Akmal bertemu dan berbincang sesuatu yang abstrak. Ya. Terkadang omongan Akmal dan Winona memang tidak bisa dimengerti. Mereka berbincang seolah-olah seperti sahabat baik yang terjalin sejak lahir. Atau lebih tepatnya, Pacaran. Lalu ada 2 orang anak membawa setumpuk buku. Salah satunya siswa, dan satunya lagi siswi. Mereka berjalan melewati Mumtaz yang sedang asik berbincang dengan Ojan di bawah lantai. Namun Anak perempuan yang membawa setumpuk buku melihat Mumtaz. “Ini anak nyolot banget ngeliat gue dari atas gitu mentang-mentang gue duduk di lantai.” Omel Mumtaz di pikirannya sendiri. “ Ah, biarin amat. Lewat aja sono lah” Pikir Mumtaz. Lalu Mumtaz, Ojan, Dan Galih melanjutkan perbincangannya. Lima menit kemudian Anak perempuan tersebut terlihat mondar-mandir di koridor kelas 9 L dan Ruang Tata usaha. Tapi Mumtaz tak memperdulikannya. Ia pikir memang sedang zamannya orang-orang aneh mondar-mandir. Lalu Mumtaz Berdiri, Menuju pintu kelas, dan membuka Beng-Beng miliknya. Masih di posisi di depan pintu, Anak Perempuan itu menghampiri Mumtaz sambil menyerahkan secarik kertas yang dilipat rapih. “Kak, Ini kak buat Kak Mumtaz. “ Ucap Anak perempuan tersebut. “……………..” Mumtaz menengok ke dalam kelas. Disana ada Haris yang sedang makan nasi uduk.
Mumtaz menatap Haris. Haris Menatap Mumtaz. Diam. Lalu petir-pun menyambar bumi. Seper sekian detik kemudian pun anak perempuan tersebut lari menjauhi Mumtaz. Selama Lima detik Seisi kelas Hening.. Karena hampir semuanya melihat proses penyerahan surat tersebut. “CIEEEEEEEEEEEEE!!!! MUMTAZ DITEMBAK WOOOOY MUMTAZ DITEMBAK!” Seisi kelas gaduh. “……………..” Mumtaz mengalami shock yang amat sangat. Lalu Ojan mengambil surat itu dari tangan Mumtaz dengan kecepatan cahayanya. SHEEET! Ojan merebutnya dari tangan Mumtaz. “WOOOOY OJAAAAN GUE DULUAN YANG BACAA!” Mumtaz mengejar ojan. Lalu tangan kaki Mumtaz pun diikat oleh teman-temannya. Mereka ingin Ojan membacanya. “WOOOOY GUE BACAIN YEE!” Teriak Ojan penuh semangat. “BACAIN JAN BACAAA!” Yang lain tambah teriak seperti makhluk purba yang kelaparan.
“Kak Mumtaz. Sebenernya aku udah ada perasaan semenjak aku ngeliat kakak pertama kali. Aku suka kakak. Mungkin aku udah lancang udah suka sama kakak kelas. Maafin aku ya kak. Mungkin kakak gatau aku. Tapi aku tau kakak. Sekali lagi maafin aku ya kak.”
Ojan membacanya dengan gaya super khasnya. “CIEE MUMTAZ DITEMBAK NIH YEE PEJE PEJE PEJEEE!” Mumtaz lemas. Sepertinya ia kehabisan darah. Lalu surat pun di lempar ke segala penjuru kelas. Sampai-sampai jatuh ke kelas sebelah, 9L. Di sana lebih gaduh lagi. Mumtaz masih berusaha mengejar surat itu. Dan akhirnya setelah adu jurus dengan Ojan, Mumtaz mendapatkan lagi suratnya. Lalu ia membacanya sejenak. Ia keheranan. Dan bertanya-tanya dalam hatinya. “Emangnya ada ya yang suka sama gue? Gila ngasal abis”.
Lalu Mumtaz meminta saran kepada teman-temannya. Beginilah saran dari Alif yang amat sangat menghebohkan.
“Lu harus Gentle mum, SAMPERIN KELASNYA. Tembak dia. Ajakin jadi pacar! “ Alif menjawab dengan muka menahan mules. “Gila lu lif. Udah tau gue gamau pacaran. Apalagi gue belum tau dia yang mana. Gimana seh.” Jawab Mumtaz.
“Gimana kalo lu diemin aja Mum. Kalo lu ladenin kan sama aja lu memberi harapan ke itu anak. Padahal lu nya gamau pacaran. Kasian dong.” Ucap Ojan dengan wajah penuh dengan kebijaksanaan. “Tumben lu jan bijaksana” Balas Mumtaz meledek. “Lu nya aja mum susah mikir” Ledek Ojan lebih hebat.
“Bagaimana kalo lu samperin langsung. Tolak dia mentah-mentah Mum” Celetuk berli sambil mengunyah kentangnya. “Ini lebih sadis lagi. Bisa bisa besok gue ditodong pake golok sama bokapnye.” Jawab Mumtaz Dengan wajah penuh ketakutan.
“Yaudah Mum lu diemin aja kalo lu emang beneran ga minat sama itu anak. “Celetuk Afi. “Ya.. Liat aja nanti.” Jawab singkat Mumtaz.
“Jadi langkah lu selanjutnya apa?” Tanya Alif penuh keheranan. “Ya.. Diam. Dia Cuma minta maaf kan. Yaudah gue maafin” Jawab Mumtaz Santai. “Ga gitu Mumtaz Anwari bin Jundun Faisal… Dia itu menyatakan perasaannya. Dia suka sama lu. “ Tukas Alif. “Yaudah liat aja beberapa hari lagi ada kejadian apa lagi.” Jawab Mumtaz Santai.
Sebenarnya Mumtaz Santai menghadapi hal ini. Karena ia telah sering mengalami hal-hal emergency seperti ini. Karena ia mempunyai pengalaman yang tak kalah menarik. Hati kecil Mumtaz pun bertanya-tanya sendiri. Inilah apa yang ingin Mumtaz katakan sebenarnya.
“Mungkin anak itu ingin mengenalku. Tapi mengeskspresikan perasaannya dengan kata suka. Ya. Menurutku itu terlalu berlebihan. Dan aku termasuk seorang yang menolak adat “pacaran” sampai sekarang pun aku belum mengetahui arti murni pacaran di kamus besar bahasa Indonesia. Kita mungkin bisa jadi teman. Tapi tidak untuk kata “kekasih” Kata-kata itu cukup berat buatku. Semoga anak itu mengerti. Dia itu masih kecil. Aku yang kakak kelas saja masih kecil. Belum cukup bertanggung jawab untuk mempertanggung jawabkan kata “pacaran”. Masih banyak yang harus dipertanggung jawabkan selain pacaran. Sebagai Makhluk tuhan, Ibadah dan amal yang harus kita pertanggung jawabkan. Sebagai anak, Pesan dan amanah orang tua lah tanggung jawab kita.Dan masih banyak lagi yang harus kita pertanggung jawabkan dalam hidup ini. Semoga anak itu mengerti apa yang ku pikirkan. “
-Mumtaz Anwari
– IX K
Semoga berkenan. Di tunggu komennya. Dan jangan lupa di-rate ya.

LEBAYYYYYY !!!
seru bgd ceritanya…
keren lo bisa bikin jadi cerpen kaya gitu….
seneng deh ada yang suka… hehehe
lo jadi penulis ajah … hHhaaaa
Penulis? Kaya raditya dika? ogah ah.
wkkwkwkwk ,ngakak gua wkkwkkwkwkwk
sama dong. gw juga ngakak sendiri.
saya cuma suka yang bagian…
“Mungkin anak itu ingin mengenalku. Tapi mengeskspresikan perasaannya dengan kata suka. Ya. Menurutku itu terlalu berlebihan. Dan aku termasuk seorang yang menolak adat “pacaran” sampai sekarang pun aku belum mengetahui arti murni pacaran di kamus besar bahasa Indonesia. Kita mungkin bisa jadi teman. Tapi tidak untuk kata “kekasih” Kata-kata itu cukup berat buatku. Semoga anak itu mengerti. Dia itu masih kecil. Aku yang kakak kelas saja masih kecil. Belum cukup bertanggung jawab untuk mempertanggung jawabkan kata “pacaran”. Masih banyak yang harus dipertanggung jawabkan selain pacaran. Sebagai Makhluk tuhan, Ibadah dan amal yang harus kita pertanggung jawabkan. Sebagai anak, Pesan dan amanah orang tua lah tanggung jawab kita.Dan masih banyak lagi yang harus kita pertanggung jawabkan dalam hidup ini. Semoga anak itu mengerti apa yang ku pikirkan. “ aja… -_-”
Makasih ya. Emang itu bagus ya? Hahaha. Baru tau.
iya sama sama
Saya suka quot yang ini.
“Mungkin anak itu ingin mengenalku. Tapi mengeskspresikan perasaannya dengan kata suka. Ya. Menurutku itu terlalu berlebihan. Dan aku termasuk seorang yang menolak adat “pacaran” sampai sekarang pun aku belum mengetahui arti murni pacaran di kamus besar bahasa Indonesia. Kita mungkin bisa jadi teman. Tapi tidak untuk kata “kekasih” Kata-kata itu cukup berat buatku. Semoga anak itu mengerti. Dia itu masih kecil. Aku yang kakak kelas saja masih kecil. Belum cukup bertanggung jawab untuk mempertanggung jawabkan kata “pacaran”. Masih banyak yang harus dipertanggung jawabkan selain pacaran. Sebagai Makhluk tuhan, Ibadah dan amal yang harus kita pertanggung jawabkan. Sebagai anak, Pesan dan amanah orang tua lah tanggung jawab kita.Dan masih banyak lagi yang harus kita pertanggung jawabkan dalam hidup ini. Semoga anak itu mengerti apa yang ku pikirkan. “
Mas mumtaz masih SMP tapi dewasa ya kayakna. Temennya Harits Mugni sama Arif Rizky ya?
Makasih. Makasih. Itu memang saya buat sendiri dan dibagus-bagusin.
Iya gw temennya harits. Tapi gatau arif rizky yang mana.
bagus, gua percaya lu alim, lu gak bokep kan? semoga enggak, amin!
Aaaa. maksudnya ini apa yaa?
ceritanya keren. bagian terakhirnya juga bagus. terus nge-post ya!
cool B)